smart medicine box
Modul 4 Aplikasi
MODUL 4
Smart Medicine Box Untuk Relawan Pasca Bencana Guna Memonitoring Suhu Obat Sensitif Berbasis STM32 dan LCD
1. Pendahuluan [Kembali]
Pasca-bencana alam, penyimpanan obat-obatan di posko darurat seringkali terkendala oleh kondisi lingkungan yang tidak ideal, seperti suhu ruang yang terlalu panas dan kelalaian relawan dalam menutup kembali kotak penyimpanan yang dapat merusak efektivitas obat. Untuk mengatasi masalah tersebut, proyek praktikum mikrokontroler dan mikroprosesor ini mengembangkan Smart Medicine Box sebagai solusi penyimpanan obat pintar yang dilengkapi sensor suhu dan detektor pintu. Proyek ini tidak hanya dirancang sebagai pemenuhan tugas akademik, tetapi juga sebagai media edukasi praktis bagi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) mengenai pentingnya menjaga stabilitas suhu dan keamanan penyimpanan logistik medis di medan darurat.
2. Tujuan [Kembali]
- Menjaga Stabilitas Suhu Penyimpanan Obat: Merancang sistem kendali otomatis yang mampu menyalakan kipas pendingin secara instan ketika sensor mendeteksi suhu di dalam kotak melebihi batas aman karakteristik penyimpanan obat.
- Mencegah Kelalaian Penggunaan (Human Error): Mengimplementasikan sistem peringatan (alarm/buzzer) otomatis yang akan aktif jika tutup kotak obat tidak tertutup rapat, guna melindungi obat dari kontaminasi luar dan fluktuasi suhu.
- Menerapkan Sensor dan Aktuator pada Sistem Tertanam: Memenuhi tugas proyek praktikum Mikrokontroler dan Mikroprosesor melalui pengintegrasian sensor suhu, sensor interlocking (tutup box), serta aktuator berupa kipas dan komponen peringatan.
- Menyediakan Alat Peraga Edukasi untuk PMI: Menghasilkan prototipe alat yang aplikatif untuk mengedukasi relawan PMI tentang pemanfaatan teknologi sederhana dalam menjaga kualitas serta higienitas logistik medis pasca-bencana.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
1. Baterai Lion 18650 2 buah
sebagai sumber tegangan 7,4V dengan arus keluaran 2A2. Buck Connverter
3. Sensor DHT22
mendeteksi suhu kotak obat dan memebrikan sinyal digital ke mikrokontroler4. Infrared Sensor
mendeteksi objek yang dalam aplikasi ini digunakan untuk mendeteksi pintu tutup obat terbuka atau tertutup dan memebrikan sinyal digital ke mikrokontroller atau mikroprosesor.
5. Magnetic Reed Switch Sensor
untuk mendeteksi magnet yang ditempel ditutup kotak obat, mendeteksi tutup obat terbuka atau tertutup
6. STM32F103C8T6
sebagai otak dari sistem yang dibuat, menerima sinyal input dari sensor dan memberikan sinyal output ke aktuator
7. Fan DC 5V
8. Buzzer
9. LCD (Liquid Crystal Diode)
10. Transistor 2N22
11. Resistor
12. Dioda 1N4007
13. Push Button
4. Dasar Teori [Kembali]
1. STM32F103C8T6
STM32F103C8T6 adalah mikrokontroler 32-bit dari STMicroelectronics , yang berbasis pada arsitektur ARM Cortex-M3. Mikrokontroler ini beroperasi pada frekuensi maksimum 72 MHz dan memiliki memori flash 64 KB dan SRAM 20 KB. Dengan 37 pin GPIO dan 10 pin input analog (resolusi 12-bit), mikrokontroler ini mendukung berbagai aplikasi tertanam. Mikrokontroler ini mencakup beberapa antarmuka komunikasi, termasuk USART, SPI, I2C, dan CAN, serta dilengkapi dengan beberapa timer untuk fungsi pengaturan waktu.
DHT22, atau dikenal juga dengan nama AM2302, adalah sensor digital yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembapan udara. Sensor ini mampu memberikan data yang cukup akurat dan stabil, membuatnya sangat cocok untuk digunakan dalam berbagai sistem monitoring berbasis IoT. DHT22 memiliki spesifikasi teknis sebagai berikut:
- Rentang pengukuran suhu: -40 hingga +80°C dengan akurasi ±0.5°C
- Rentang pengukuran kelembapan: 0% hingga 100% RH dengan akurasi ±2–5% RH
- Tegangan operasi: 3.3V hingga 6V
- Frekuensi sampling: Sekitar 0.5 Hz (pembaruan data setiap 2 detik)
- Interface: Digital single-wire (one-wire)
Dibandingkan dengan “saudara”-nya, DHT11, DHT22 menawarkan rentang pengukuran yang lebih luas dan akurasi yang lebih baik, meskipun dengan harga yang sedikit lebih mahal.
Sensor inframerah (IR) adalah perangkat elektronika yang mendeteksi radiasi sinar inframerah untuk mengukur karakteristik fisik seperti jarak, gerakan, panas, atau keberadaan objek. Teori dasar sensor ini memanfaatkan sifat gelombang elektromagnetik inframerah yang berada pada panjang gelombang sekitar 780 nm hingga 50 µm, yaitu energi tak kasat mata yang dipancarkan oleh benda berdasarkan suhu atau pantulan cahayanya.Berikut adalah pembahasan lengkap mengenai teori, komponen, jenis, dan cara kerja sensor inframerah.
Komponen Utama Pembentuk Sensor IR
Secara umum, sistem sensor IR (khususnya jenis aktif) tersusun atas dua komponen optoelektronik utama:
IR Emitter (Pemancar): Berupa Light Emitting Diode (LED) khusus yang memancarkan cahaya pada spektrum inframerah.
IR Receiver (Penerima): Berupa fotodioda (photodiode) atau fototransistor yang sensitif terhadap panjang gelombang inframerah untuk menangkap kembali sinar tersebut.
Dua Jenis Utama Sensor IR
Berdasarkan teori penginderaannya, sensor IR dibagi menjadi dua kategori utama:
1. Sensor IR Aktif (Active IR Sensor)
Sensor ini memancarkan energinya sendiri melalui LED pemancar dan menangkap kembali pantulannya menggunakan penerima.
Cara Kerja: LED memancarkan radiasi IR. Jika ada objek di depannya, radiasi tersebut akan memantul kembali. Fotodioda menangkap pantulan ini dan mengubah intensitas cahaya menjadi sinyal listrik.
Contoh: Sensor pembaca garis (line follower) dan sensor jarak (proximity sensor).
2. Sensor IR Pasif (Passive IR Sensor / PIR)
Sensor ini sama sekali tidak memancarkan energi inframerah sendiri, melainkan hanya menerima radiasi inframerah alami yang dipancarkan oleh objek hidup atau benda panas di sekitarnya.
Cara Kerja: Setiap benda dengan suhu di atas nol mutlak memancarkan radiasi panas. Saat ada manusia atau hewan bergerak melintasi area tangkapan, sensor PIR mendeteksi perubahan mendadak fluks energi inframerah dan memicu output listrik.
Contoh: Sensor pendeteksi gerakan pada lampu otomatis atau sistem alarm keamanan.
Prinsip Kerja dan Pengolahan Sinyal
Secara sirkuit elektrik, perubahan intensitas cahaya yang diterima oleh fotodioda akan mengubah nilai resistansi komponen tersebut. Perubahan ini menghasilkan tegangan analog yang bervariasi.
Pada modul sensor komersial (seperti tipe FC-51), tegangan analog ini diteruskan ke sebuah IC komparator (misalnya LM393) untuk dibandingkan dengan batas sensitivitas yang diatur melalui potensiometer. Hasil akhirnya adalah sinyal digital biner:
Logika LOW (0): Sinar memantul (ada hambatan/objek terdeteksi).
Logika HIGH (1): Sinar lepas (tidak ada objek di depan sensor).
Sinyal digital ini nantinya dapat langsung diproses oleh mikrokontroler seperti STM32 untuk mengontrol aktuator seperti buzzer, lampu, atau motor.
Berikut adalah penjelasan teori lengkap mengenai struktur, prinsip kerja, jenis, serta kelebihan dan kekurangannya:
1. Struktur Dasar
Komponen ini memiliki struktur yang sangat sederhana namun efektif:
Tabung Kaca (Glass Envelope): Berfungsi sebagai pelindung utama yang disegel secara rapat (hermetis). Di dalamnya biasanya diisi gas lembam (inert gas) seperti nitrogen untuk mencegah korosi dan percikan api pada kontak.
Bilah Kontak (Reeds): Dua buah lempengan logam pipih berbahan feromagnetik (material yang mudah dipengaruhi magnet, seperti campuran besi-nikel) yang diletakkan saling tumpang tindih tetapi diberi celah kecil.
2. Prinsip Kerja (Teori Magnetisme)
Prinsip kerja sensor ini didasarkan pada gaya tarik-menarik magnetis:
Tanpa Medan Magnet: Dalam kondisi normal (tanpa magnet), kedua bilah logam berada pada posisi aslinya karena sifat elastisitas bahan. Sirkuit tetap terbuka atau tertutup sesuai tipenya.
Saat Magnet Mendekat: Ketika magnet permanen atau kumparan elektromagnet didekatkan, medan magnet akan mengalir melalui bilah-bilah feromagnetik tersebut. Hal ini membuat ujung-ujung bilah memiliki kutub magnet yang berlawanan (Utara dan Selatan).
Terjadinya Kontak: Perbedaan kutub tersebut menghasilkan gaya tarik-menarik (gaya Lorentz/magnetis). Jika gaya magnet ini lebih kuat daripada gaya mekanis elastisitas logam, kedua bilah akan menempel dan mengubah status sirkuit.
Magnet Dijauhkan: Begitu medan magnet dihilangkan, magnetisasi residual pada bilah akan hilang (karena material telah melalui proses peniadaan magnet sisa atau annealed). Sifat elastisitas logam akan menarik kembali bilah ke posisi semula.
3. Jenis-Jenis Reed Switch
Berdasarkan kondisi awalnya saat tidak terkena medan magnet, reed switch dibagi menjadi dua tipe utama:
Normally Open (NO): Tipe yang paling umum. Dalam kondisi normal, kedua bilah terpisah (sirkuit terputus). Ketika ada magnet, bilah akan menempel (sirkuit tersambung).
Normally Closed (NC): Dalam kondisi normal, kedua bilah sudah saling menempel (sirkuit tersambung). Ketika magnet mendekat, medan magnet justru membuat kedua bilah memiliki kutub yang sama sehingga saling tolak-menolak dan sirkuit terputus.
4. Karakteristik, Kelebihan, dan Kekurangan
Karena keandalannya, sensor ini banyak digunakan pada situs Standex Detect untuk:
Sistem Keamanan: Sensor pintu dan jendela (alarm berbunyi jika magnet di pintu menjauh dari sakelar di kusen).
Otomotif: Sensor tingkat ketinggian cairan (minyak rem atau radiator) menggunakan pelampung bermagnet.
Perangkat Medis: Sensor posisi pada peralatan diagnostik yang menuntut tingkat higienis tinggi.
Komentar
Posting Komentar